Buku Antologi Pertama RPI Depok

  • Whatsapp

Juli 2021 yang baru saja berlalu merupakan masa bahagia bagi Rumah Produktif Indonesia cabang Depok. Pasalnya, RPI cabang Depok telah berhasil menerbitkan sebuah buku antologi pertamanya dengan judul Covid Mengancam! Belajar di Rumah Saja Ya! RPI Depok tidak sendirian menggarap buku antologi ini, tapi juga menggandeng sebuah komunitas yang juga concern di dunia literasi, yaitu Books4Care.

Meskipun dalam masa pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, kita sebagai manusia yang dinamis, hendaknya selalu berusaha untuk tetap produktif dalam berbagai hal. Menulis merupakan salah satu cara untuk tetap produktif di masa pandemi ini. Wabah atau pandemi yang sudah berlangsung sejak tahun lalu, memaksa kita untuk tetap berada di rumah demi memutus mata rantai penyebaran virus corona. Dengan waktu yang kita miliki lebih banyak di rumah, membuat kita harus cermat memanfaatkannya.

Read More

Waktu yang kita habiskan di rumah selama pandemi ini semoga dapat digunakan dengan sebaik-baiknya, salah satu caranya yaitu dengan menulis. RPI Depok dan Books4Care menangkap kesempatan waktu luang ini untuk mengajak anggota masyarakat yang tergabung di kedua komunitas tersebut untuk menuangkan isi hati dan pikirannya ke dalam sebuah tulisan yang berkaitan dengan sistem belajar dari rumah. 

Proyek buku antologi Covid Mengancam! Belajar di Rumah Saja Ya! digarap sejak April 2021. Setelah melewati waktu yang cukup lama dalam masa pengumpulan naskahnya, akhirnya naskah pun terkumpul dan mulai diproses pada bulan Juni 2021. Pada Juli 2021 naskah telah rampung dan siap diterbitkan oleh Penerbit Haura Utama yang berbasis di Sukabumi, Jawa Barat.

Naskah buku ini ditulis oleh penulis yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Terdapat 22 penulis yang menuliskan berbagai kesan, pesan dan harapan mereka terkait menjalani sistem belajar dari rumah yang telah dicanangkan oleh pemerintah sejak terjadinya wabah Covid-19 ini. Penulis pun datang dari berbagai kalangan dan profesi. Dosen, guru, mahasiswa, youtuber hingga emak-emak tak mau ketinggalan menuangkan unek-uneknya.

Dua puluh dua penulis tersebut yakni; Iecha, Novia Syahidah Rais, Nia Hanie Zen, Indah Aryani, Widya Rizky Pratiwi, Denik, Arif Rahman Nurdianto, Alawiyah, Prasasti Dikara Areta Harahap, Windry Dezentya, Rio Hermawan, Nia Kurniasih, Wiekerna Malibra, Soni Yarsi, Irmawati, Anggarani, Muhamad Fadlullohil Hakim Nurdiyanto, Fisra Firsty, Rahmiwati Marsinun Latief, Zainal Fadri, Maghdalena.

Dalam kata pengantar buku ini, Presiden Rumah Produkif Indonesia, Yanuardi Syukur, menuliskan bahwa buku adalah penanda hadirnya peradaban dan di masa kita masih ‘terpenjara’ oleh virus corona ini yang bisa kita lakukan adalah bersabar dan terus beradaptasi. Menulis merupakan salah satu cara beradaptasi di masa pendemi ini. Dari menulis kisah dan akhirnya menjadi sebuah buku, maka secara tidak langsung kita telah mewariskan peradaban kepada generasi yang akan datang.

Bertahan hidup di masa yang serba sulit ini memang tidak mudah. Namun sebagai makhluk yang diciptakan dengan paripurna, manusia memiliki insting tidak hanya untuk bertahan hidup tapi juga untuk tetap menjaga produktivitas. Dan hal itu sedang diuji di masa-masa yang banyak sekali pembatasan yang diberlakukan saat ini, begitu ungkap Lufti Avianto, founder Books4Care.

Akhirnya, kami berharap dari buku yang sederhana ini semoga dapat menjadi pembangkit semangat untuk tetap produktif di masa-masa sulit ini. Juga menjadi sebuah kisah yang patut disimpan di dalam memori untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kita di masa mendatang.

Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan buku antologi ini; panitia RPI Depok dan Books4Care, para penulis, penerbit, Presiden RPI dan Founder Books4Care. Semoga kolaborasi ini dapat terus terjaga di masa-masa mendatang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *