Bermain Bersama Anak-Anak Asia

  • Whatsapp

Oleh Maghdalena

Isi buku ini amat ringan. Saya membacanya semalam ketika menunggu kantuk yang tak juga datang. Hanya suara cicak dan mesin akuarium menemani detik demi detik jam dinding yang berjalan konstan.

Buku ini sudah lama saya beli. Sewaktu masih hamil Aisyah kalau tidak salah. Sekira delapan tahun lalu.

Ketika itu, sebuah sekolah swasta dekat rumah mengadakan bazar jual buku murah. Buku-buku di perpustakaan sekolah tersebut dijual kepada khalayak dengan harga murah. Bentuknya banyak yang  sudah usang, lusuh dan robek di sana sini. 

Saya tentu saja kalap, dong. Bisa membeli buku berkualitas dengan harga miring ini rasanya seperti mendapatkan nangka runtuh. Bukan durian, ya. Saya bukan penyuka durian soalnya. He-he-he.

Pertama kali melihat buku ini, saya membayangkan tengah berada di beberapa pelosok negara di Asia, mengamati anak-anak usia lima hingga belasan tahun bermain di lapangan, di ujung jalan kampung dengan debu beterbangan dan tanpa alas kaki. Berteriak kegirangan dan bersorak-sorai.

Persis seperti yang saya alami dulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar di Maninjau. Menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman dengan aneka permainan yang membuat tubuh selalu bergerak, dan tak lama, badan pun bergelimang keringat.

Sungguh menyenangkan mengenang masa kecil dalam permainan fisik yang seru itu. Berkumpul dengan kawan-kawan tanpa adanya gawai di tangan. Saling menyindir, menertawakan, lalu bertengkar karena ada salah seorang teman yang bermain dengan curang. Baku hantam sebentar, lalu kembali berbaikan. Begitu terus. Berulang-ulang.  Setelahnya pulang ke rumah dalam kondisi badan yang dekil penuh debu dengan aroma tubuh terbakar matahari.

Buku yang ditulis oleh Opal Dunn ini adalah buku terjemahan kerjasama antara PN Balai Pustaka dengan UNESCO. Pertama kali dicetak di Indonesia pada tahun 1978.
Sudah lama bukunya, tapi tetap menyenangkan untuk dibaca.

Ada 55 jenis permainan di dalam buku ini, yang berasal dari 15 negara di Asia. Opal Dunn sebagai penulis buku ini telah menghabiskan waktu yang panjang untuk meneliti dan menelusuri dengan sangat jeli jenis-jenis permainan tersebut.

Saya membayangkan, ia melakukan riset sana-sini, membaca banyak referensi, mengontak banyak pihak, bahkan mungkin turun langsung ke beberapa negara untuk melihat secara langsung anak-anak memainkan permainan tersebut.

Ah … pasti menyenangkan.

Membaca buku ini, membuat saya merenung, betapa Maha Kuasanya Allah menganugerahkan ide dan inspirasi bagi manusia sehingga permainan yang unik dan menyenangkan tersebut bisa hadir di tengah masyarakat.

Menjadi alternatif hiburan bagi anak-anak seluruh bangsa untuk menghabiskan masa kecil dalam suasana yang ceria dan penuh kegembiraan.
Permainan itu melatih mereka menjadi anak-anak yang tangkas, empati, juga menjadi cikal bakal lahirnya sosok-sosok pemimpin dengan jiwa leadership yang menonjol.

Saya sangat terkesan dan sempat merasa geli sendiri ketika membaca halaman 74. Tentang permainan dari Iran, yang diberi nama Paman Tukang Rantai. Mengingatkan saya pada permainan Ya Oma Ya Oma, sewaktu di Maninjau dulu. 

Permainan berkelompok yang terdiri dari beberapa orang sambil menyanyikan sebuah lirik lagu. 
Kalau tidak salah bunyinya begini:


“Aku ini orang miskin, Ya Oma … ya Oma.
Kuminta anak satu, Ya Oma … Ya Oma.
Siapa namanya, Ya Oma … Ya Oma.”


Bagi yang pernah memainkan permainan itu juga dulu, pasti tahu irama lagunya. 
Mengingat lirik lagu ini, membuat pikiran saya seketika melayang ke masa berpuluh tahun lalu. 

Dulu sekali, bersama teman-teman, saya sering memainkannya di halaman MDA sepulang mengaji di Jorong Bancah, Maninjau. Kampung saya.
Zaman telah berubah. Saya tidak yakin, anak-anak sekarang apakah masih mengenal permainan tempo doeloe ini atau tidak. Kehadiran gadget telah mengubah banyak pola kehidupan dan permainan anak-anak kita.

Namun, kita bisa apa?

Kemajuan teknologi dengan segala kecanggihannya telah menyingkirkan banyak permainan fisik yang dulu begitu digandrungi oleh anak-anak di tahun 60an hingga 90an itu.

Anak-anak kita hari ini lahir dengan kondisi langsung bertemu dengan gadget atau ponsel pintar. Sebuah benda kecil yang tak hanya memiliki selaksa manfaat, tapi juga membawa banyak mudarat bagi perkembangan generasi penerus bangsa. Permainan yang dulunya dilakukan dengan melibatkan fisik langsung, saat ini bisa mereka mainkan di dalam genggaman tangan.

Mengutip laman Kompas.com, saat ini anak-anak lebih sering bermain dengan permainan modern yang identik dengan penggunaan teknologi seperti video games dan games online di ponsel.

Hal ini memberikan dampak positif, tapi tentu juga berdampak negatif di sisi lainnya.

Permainan anak tradisional pun mulai terlupakan dan bahkan terasa asing di kalangan anak-anak “zaman now“. Selain itu, tingkat kecanduan terhadap permainan modern juga tinggi sehingga berpengaruh pada kebiasaan dan perilaku anak.

Dalam jurnalnya, Haerani Nur dari FP Universitas Negeri Makassar menuliskan bahwa setidaknya ada delapan aspek yang berkembang baik pada anak yang memainkan permainan tradisional, yaitu aspek motorik, kognitif, emosi, bahasa, sosial, spiritual, ekologis, dan aspek nilai-nilai atau moral. 

Lalu apakah kita harus menyalahkan kemajuan teknologi yang membuat anak-anak “zaman now” luput dari kesempurnaan pencapaian delapan aspek tersebut karena telah kecanduan dengan gadget atau ponsel pintar?

Saya rasa tidak juga.

Kita tidak boleh menyalahkan. Yang harus kita lakukan adalah sebuah pengendalian, manajemen serta kerjasama yang padu. Pengaturan dari pihak terkait, agar penggunaan ponsel pintar, dan permainan tradisional tetap dapat seimbang dimainkan oleh anak-anak kita.

Di sinilah perlunya peran dan kolaborasi orang tua, guru, masyarakat dan tentu saja pemerintah untuk membuat permainan tradisional ini tidak lekang oleh zaman, dan tetap mendapat tempat di hati anak-anak kita hari ini.

Buku ini menjadi bukti, bahwa pada masanya dulu, bangsa-bangsa Asia, sangat kaya dengan aneka permainan tradisional yang penuh dengan kreativitas dan imajinasi tanpa batas. 

Malam tadi, selepas membaca buku itu, saya beranjak ke peraduan dengan senyum terkembang. Sembari membayangkan anak-anak yang berlarian di lapangan dan halaman rumah, bersorak sorai memainkan permainan tradisional, dengan penuh kegembiraan, semangat dan gelimang keringat yang tak pernah membuat penat.

Read More

Padang, 9 Agustus 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *