Menulis Kisah Teladan

  • Whatsapp
Menulis Kisah Teladan
Sumber: Mojok.co

Pada sebuah sore, saya dapat telepon untuk memimpin doa. Saya senang dan melihat itu sebagai kebaikan. Setahun lalu, saya juga dapat ‘tugas’ tersebut, berdoa dan mengisi taushiyah untuk kolega dosen yang berpulang ke rahmatullah. Seorang kawan bercerita, bahwa beberapa waktu lalu ada kawannya yang berpulang bersama dengan anaknya.

Setelah menyampaikan doa, saya mendengarkan testimoni dari para sahabat. Semuanya merasa kehilangan. Singkatnya, semua merasa bahwa almarhumah orang yang baik, ceria, dan tidak ada masalah dengan orang lain. Namanya, Nur, yang berarti cahaya, sinar, memancarkan cahaya ketulusan bagi teman-temannya.

Read More

Pribadi Bercahaya

Awal tahun baru kadang kita teringat orang-orang dekat yang telah mendahului. Kawannya istriku, Ira namanya, adalah pribadi yang baik dan terkenang. Waktu saya baru nikah, kami diajak silaturahmi sambil makan-makan di Warung Aroma, tak jauh dari gerbang pesantren. Ajakan ini awalnya dari kawannya istriku, katanya “ayo kita makan-makan, nanti BSS–bayar sendiri-sendiri.” Kata Ira, “kalau suamiku ikutan pasti nggak ada BSS, karena pasti dia yang bayar.” Dan, betul, walau kita mau cepat bayar di kasir, suami Ira lebih cepat langkahnya. Terakhir, waktu ketemu di Jakarta, kami dijamu dengan ‘nasi Arab’ yang lezat.

Kata istriku, keluarga suaminya Ira memang dikenal suka traktir. Saya mengiyakan, karena tiap makan selalu ditraktir. Pernah waktu makan ikan bakar di salah satu restoran saya ketemu seseorang. Pas saya mau bayar, katanya sudah dibayar oleh bapak yang tadi. Singkatnya, jiwa yang senang traktir itu jiwa yang menyenangkan, jiwa yang disukai banyak orang.

Waktu saya, istri, dan anak pertama pulkam naik kapal laut, Ira dan suaminya juga mengantar. Beberapa lainnya juga menemani sampai kami naik kapal, sesuatu yang jarang bangat ada di masa pandemi–karena kita dibatasi dan kurang mobile. Kenangan indah itu masih sering dikenang, sampai saat ini.

***

Kawan lainnya, Ismail namanya. Saya baru kenal. Buku saya, dijualkannya ke koleganya. Luar biasa. Sebagai pengantin baru dengan pemasukan yang nggak seberapa, bantuan kawan tersebut sangat bermakna. Suatu saat, kita dapat kabar bahwa kawan baik tersebut kecelakaan di tol dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Orangnya baik, senang tersenyum, dan dewasa. Sampai sekarang saya masih ingat bagaimana obrolan-obrolan masa itu.

Orang-orang bercahaya sebenarnya banyak banget. Di lingkungan terdekat kita pasti ada jika kita ingat-ingat. Mereka memberi kesan kepada kita yang dalam. Mereka bisa jadi keluarga batih kita, keluarga luas, atau sekedar teman yang baru kita kenal. Kebaikan mereka kita kenang, dan kadang kita tak kuasa kecuali hanya mendoakannya, atau bertanya kabar anaknya, atau keluarganya.

Kawan saya lainnya, Arman. Saya ingat waktu lagi nggak ada uang banget, saya minjem uang. Ia langsung kasi ke saya satu lembar, dan tidak bilang kapan harus dibalikin. Sampai ketika ia sakit, saya tidak bisa melakukan banyak hal. Kemudian ia berpulang. Saat buka file lama, saya temukan powerpoint-nya yang dipresentasikan kepada sesama “anak kantor” ketika itu.

Menuliskan Kisahnya

Kepada orang baik yang telah tiada, kadang kita bingung “apa yang harus saya lakukan?” Selain mendoakan, menuliskan kisah baiknya adalah sangat baik. Bayangan sederhananya: kawan kita itu pergi meninggalkan keluarganya selamanya. Jika kita tulis kebaikan almarhum/ah, maka kebaikannya akan terus hadir dan jadi pengingat, bahkan teladan bagi banyak orang.

Jika kebaikannya hanya diceritakan maka lambat laun cerita itu akan hilang, belum lagi distorsi, dan kehilangan makna akibat cerita yang beredar tidak utuh. Ruh cerita itu paling baik ditulis oleh orang yang kenal atau pernah berinteraksi dengan almarhum/ah.

Jika hendak menulis, maka tulislah nilai penting yang dapat diteladani. Kita sekarang banyak orang pintar, tapi kurang orang teladan. Misal, saat kita ada salah, kita bisa ingat kisah Nabi Yunus as yang ter-lock down di perut ikan, menyadari kesalahannya–karena meninggalkan kaumnya–dan berdoa. Doanya dikabulkan, tubuhnya kemudian dilemparkan oleh ikan ke daratan, dan didekatnya Allah tumbuhkan pohon dari jenis labu (QS. Asshaffat: 146), sebuah pohon yang lalat-lalat tak mau mendekati sesuatu yang berdekatan dengn labu.

***

Surat Al-Anbiya ayat 87-89 mengabadikan kisah itu: “Maka dia menyeru dalam situasi yang sangat gelap, ‘Bahwa tak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.’ Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami seelamatkan orang-orang yang beriman.”

Kita bisa memulai dengan menulis kisah orang tua kita masing-masing. Seorang ayah, sekurang apapun ia, pastilah ada kebaikannya yang bisa diteladani. Pun demikian ibu. Semua pengorbanan orang tua itu bagus untuk ditulis, tidak hanya untuk pengingat diri tapi juga sebagai cerita teladan bagi anak-cucu atau keluarga besar.

Artinya, kebaikan yang ada dalam satu orang perlu dijadikan nilai bersama dalam keluarga. Dan itu bisa dilakukan dengan menulis kisah. Buya Hamka ketika menulis ‘Ayahku’ tidak hanya mengenang sosok ayahnya tapi juga untuk melihat posisi ayahnya dalam perjuangan di Sumbar, bahkan Indonesia.

Kita semua meyakini bahwa rezeki itu udah tertulis di sisi Allah. Tiap orang berusaha untuk menjemputnya. Namun, cerita keajaiban juga kerap hadir dalam kehidupan kita. Tentang keajaiban misalnya, kita pelajari dari dialog Nabi Zakaria as dengan Maryam.

Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imran: 37).

***

Bisa jadi, ada cerita keajaiban–yang di luar nalar–dari kisah perjuangan orang tua kita, atau teman-teman kita. Kisah-kisah itu ada, real, dan menunjukkan bahwa di balik usaha realistis manusia, selalu ada sesuatu yang lebih realistis yang mungkin belum kita pahami. Rezeki, sesungguhnya tidak hanya fisik tapi juga hikmah, bahkan cerita bermakna.

Semua ayah dan ibu dapat dituliskan kisahnya. Kita bisa menulis mulai dari cerita yang paling berkesan sampai sekarang. Jangan sampai cerita itu hilang, karena cerita baik sejatinya adalah hikmah yang dapat menjadi perspektif dan semangat dalam menjalani hidup yang tidak selalu mudah.

Saat menulis, kita juga bisa memilih mana hal-hal penting untuk dituliskan dan mana yang tidak penting. Moral cerita sangat baik untuk hadir di dalamnya. Jika yang ditulis adalah pemikiran seorang teman, guru, atau tokoh, baiknya ‘sikap ilmiah tidak eksklusif’ dan ‘hormat-kritis. Mengutip Prof Wan Mohd Nor Wan Daud dalam ‘Budaya Ilmu’ (2019) patut untuk dipegang. Bersikap terbuka, hormat namun tetap kritis.

Menulis dengan fokus pada inspirasi, kebaikan, dan keteladanan orang lain itu sebenarnya bagian dari kita mencari mutiara terpendam yang bisa jadi ada dalam diri orang-orang terdekat. Di masa pandemi ini pasti banyak waktu kita untuk mulai menulis teladan orang-orang terdekat yang berpengaruh dalam hidup kita.

Penyunting: Saleh

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *