“Khotbah yang Ramah di Ruang Digital; Indonesia Makin Cakap Digital”

  • Whatsapp

Oleh: Ainun Zaujah, S.Sos.,M.Si*

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama dengan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia, total jumlah pengguna Internet di Indonesia per awal 2015 adalah 88.1 juta orang. Akan tetapi, sesuai dengan riset yang dilansir oleh wearesocial.sg pada tahun 2017 tercatat ada sebanyak 132 juta pengguna internet di Indonesia dan angka ini tumbuh sebanyak 51 persen dalam kurun waktu satu tahun. Data ini saya peroleh dari buku pendukung literasi digital yang diterbitkan oleh Kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Read More

Pada momentum Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2021, Kamis (20/05/2021), Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Program Literasi Digital Nasional. Program ini merupakan bagian dari upaya percepatan transformasi digital khususnya terkait pengembangan sumber daya manusia digital.

“Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkret di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Presiden dalam sambutan yang disampaikannya secara virtual.

Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.

Sementara itu, Douglas A.J. Belshaw dalam tesisnya What is ‘Digital Literacy‘ (2011) mengatakan bahwa ada delapan elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital, yaitu:

1. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital;
2. Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten;

3. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual;

4. Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital;
5. Kepercayaan diri yang bertanggung jawab;
6. Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru;

7. Kritis dalam menyikapi konten; dan
8. Bertanggung jawab secara sosial

Menurut saya, untuk mengembangkan budaya literasi digital yang baik, maka harus dimulai dari literasi baca tulis. Karena disinilah pondasi yang baik untuk menuangkan ide dan gagasan di media digital. Kita bisa menggunakan media social secara sehat, jika literasi baca tulis berkembang dengan pesat. Literasi baca tulis menunjukkan tingkat intelektualitas seseorang dalam berbahasa yang santun. Fungsi bahasa pun terangkum singat dalam peribahasa klasik, bahasa menunjukkan bangsa. Makna di baliknya mengungkapkan baik-buruk sifat dan tabiat orang dapat dilihat dari tutur kata atau bahasanya.

Sayapun mencoba berkontribusi untuk Bangsa dan Agama, dengan memantapkan niat untuk mengambil peran dalam berdakwah di sosial media. Saya terus berusaha agar bisa konsisten melaksanakan misi dakwah sesuai anjuran agama. Dakwah yang ramah dan santun adalah cara saya untuk ikut berpartisipasi menampilkan Islam sebagai agama yang menjadi Rahmat bagi alam semesta. Adapun kaidah yang saya pilih adalah “berilah kabar gembira sebelum memberikan peringatan, tebarkan kesejukan dan tepislah perbedaan untuk meraih hidup yang penuh kedamaian.

Pada tanggal 5 Agustus 2021 saya mendapatkan pesan singkat dari seorang wartawan Kompas TV namanya Pak Roni. Pak Roni mengawali sapaannya dengan mengucapkan salam lalu menjelaskan maksud dan tujuannya menghubungi saya. Saya belum pernah mengenal pak roni sebelumnya. Berikut isi pesan singkatnya:

“Saya Ronny, dari tim Katadata yang menghandel Webinar Literasi Digital di Sulawesi. Kami sedang menggelar seri rangkaian Webinar Literasi Digital dari Kominfo. Event-eventnya bisa dilihat disini: https://www.instagram.com/siberkreasisulawesi/. Terkait dengan itu, saya ingin mengajak ibu menjadi salah satu narasumber pada Kamis 12 Agustus pkl 18.30-21.30 wita, melalui Zoom Webinar. Webinar pada Kamis itu ditujukan untuk masyarakat Buton Utara, dengan tema utama: Khotbah Yang Ramah di Ruang Digital. Kami ingin mengajak ibu mengisi materi: “Literasi dalam Berdakwah di dunia Digital”.

Setelah itu pak Roni mengirimkan TOR untuk saya pelajari. Setelah membaca dan mencermati isi TOR tersebut, saya pun menyanggupi undangan tersebut. Karena di dunia nyata saya memiliki praktik baik literasi. Dan apa yang sudah saya lakukan di dunia nyata, saya aplikasikan juga ke dunia Maya dengan membagikan ide dan gagasan lewat menulis yang baik dan diniatkan untuk berdakwah di media sosial.

Hari kamis, 12 Agustus 2021, Kegiatan webinar pun berlangsung dengan lancar. Dihadiri oleh 54 partisipan. Pemaparan materi dari semua narasumber tersampaikan dengan baik. Pemateri pertama, Dicky Sofyan memaparkan tentang pentingnya literasi keagamaan. Pak Dicky Sofyan pun memaparkan bahwa Sejak tahun 2019 lembaganya ICRS Pasca sarjana UGM sudah bekerjasama dengan Kementrian agama RI, dalam hal memberikan Diklat Literasi Keagamaan di Indonesia.

Menurut beliau, Penyuluh agama dituntut untuk bisa berkompetisi di dunia digital dengan memiliki skill komunikasi, digital skill, memposting konten positif dan tidak menyebarkan hoaks. Menurut pak Dicky, Penyuluh agama adalah ujung tombak kemenag, potensi mereka yang jumlahnya ratusan ribu di Indonesia akan sangat berdampak positif jika diberikan peningkatan kapasitas.

Pemateri kedua, pak Rahman Jasmanto menjelaskan tentang tata krama memberikan komentar di media sosial. Edukasi tentang Undang-Undang IT pun diberikan kepada peserta webinar untuk menghindari ancaman hukuman.

Pemateri ketiga adalah saya sendiri, Ainun Zaujah. Saya menyampaikan kaidah berdakwah dengan ramah di media sosial. Menurut Ibnu Taimiyah dakwah adalah  seruan untuk  beriman kepada Allah Swt dan pada ajaran yang dibawa para utusan-Nya, membenarkan berita yang mereka sampaikan dan mentaati perintah-Nya. Allah Swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104, Artinya: “dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Metode dakwah telah dijelaskan pula di dalam alqur`an surat An Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. AdapunEtika berdakwah: Etika berdakwah di media sosial adalah pertama, Dakwah itu harus lugas dan santun. Kesesuaian antara apa yang diposting dengan kehidupan sehari-hari harus selaras. Kedua, jika ingin berdakwah lewat media sosial, pakailah nama asli. Ketiga, Postinglah yang baik. Hati-hati dengan jejak digital.

Pemateri keempat, Defriatno Neke berbicara tentang Keamanan Digital. Beliau memaparkan bagaimana cara menjaga keamanan akun media sosial salah satunya adalah menggunakan password gabungan huruf dan angka, ketika selesai menggunakan akun media sosial biasakan untuk keluar dari aplikasi tersebut agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Alhamdulillah, kegiatan webinar berjalan dengan lancar. Kegiatan dipandu oleh host mba Mila Karmila, seorang penyiar radio di kota Makassar. Semoga kegiatan webinar ini bisa memberikan manfaat yang berarti untuk masyarakat Indonesia, terkhusus masyarakat Buton Utara agar semakin cakap digita. Literasi digital adalah kerja besar, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital.

*Penulis adalah Pengurus RPI Pusat bidang Parenting Koordinator bidang Pra Nikah, Penyuluh Agama Islam di kota Baubau, Tenaga pendidik mata kuliah pendidikan agama Islam Unidayan, Konselor keluarga Puspaga.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *