Guru Honorer; Yang Menyala dalam Gelap

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Musmulyadi*

Selain hari-harinya dilewati menjadi pengajar di salah satu sekolah negeri yang ada di Kota Makassar, ia juga sering membantu orang tuanya bekerja di sawah dan empang. Pernah satu kali di hadapan kami siswanya beliau menyampaikan bahwa cita-cita terbesarnya ialah menjadi guru atau dosen. Ia menceritakan kisah tersebut kepada kami sebagai motivasi untuk tetap melanjutkan sekolah. Cita-cita itu ditanam sejak kecil, ditulis lalu kemudian ditempel di depan pintu lemarinya, setiap hari melihatnya, setiap saat membacanya. Ketika membuka lemari, seakan-akan dia membuka perlahan-lahan pintu menuju apa yang ia cita-citakan.

Setelah meraih gelar sarjana pendidikan agama. Ia kemudian menjadi seorang guru. Hampir seluruh waktunya diabdikan menjadi pengajar dan pendidik. Di sela waktu kosongnya ia juga bertani dan mengurus empang miliki orang tua. Ada kisah menarik dari ini. Suatu waktu beliau mengikuti kompetisi pertanian untuk mewakili kelompok tani di kampungnya mengikuti lomba.

Keikutsertaannya berhasil membawa kelompok taninya menjadi perwakilan kota di tingkat provinsi, dan mewakili provinsi di tingkat nasional. Kala itu ia berhasil menerbangkan kelompoknya menuju serambi mekah untuk ikut berlomba dan memperoleh juara sekaligus menjadi peserta lomba termuda.

Dia adalah adalah guru saya, selain guru dalam kelas dia juga sebagai guru di luar kelas. Dia juga tidak hanya aktif mengajar dan bertani. Dia juga merupakan seorang pengabdi yang memberikan cukup banyak waktu untuk mengurusi remaja-remaja di kampungnya. Barangkali hampir sepuluh tahun dia melakukan kerja-kerja pengabdian, generasi-generasi baru telah ia lahirkan disertai dengan ilmu agama maupun non agama.

Remaja masjid sebagai organisasi remaja yang dibinanya pada akhirnya bisa menduduki tempat di hati masyarakat. Hal itu tidak gampang diraih. Sebab remaja kadang dianggap sebagai kelompok masyarakat yang arogan dan memiliki pemikiran yang sempit. Tapi atas capaian, prestasi dan kontribusi yang telah diberikan kepada masyarakat, akhirnya mendapat tempat.

***

Profesi guru honor dan guru tetap atau yang biasa kita sebut sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebenarnya sama saja. Ini tentang kedudukan, perlakuan, dan status di mata negara melalui Bada Kepegawaian Negara (BKN). Kerja pengabdian tidak harus menunggu posisi kita terangkat jadi PNS baru mau berbuat. Sejatinya pengabdian itu ketika kita ketika telah berbuat, terutama terkait masalah pendidikan. Pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk membangun sebuah negara, ia adalah ujung tombak, negara tidak akan mungkin bisa maju jika tidak dimulai dengan ucapan bismillah dari sektor pendidikan.

Pendidikan yang baik dimulai dari pendidik yang berkualitas. Mau guru honorer ataupun bukan tetap sama-sama memiliki kualitas yang baik, ketulusan yang memperlihatkan itu semua. Ketulusan untuk mendidik, mengajarkan ilmu pengetahuan, serta mendidik budi pekerti manusia.

Di luar dari itu sering kali kita mendengar berita mengenai guru honorer di berbagai berita yang tidak seharusnya dirasakan para pendidik. Pendidik moral bangsa. Ini masalah kesejahteraan guru. Barangkali kita banyak menemukan berita yang bersiliweran tentang nasib guru. Mungkin tidak semua guru beruntung bisa lulus menjadi pegawai negeri. Ada juga yang belum menemukan nasib baiknya. Ini sebenarnya tidak hanya persoalan materi saja, tapi bagaima upaya melihat realitas ketidakkesejahteraaan guru yang tidak mungkin ia tabuh sendiri. Menyuarakan kepahitan ekonominya yang dicicipi setiap hari dari balik ketulusannya.

Barangkali sekolah menjadi penjara bagi para guru honorer. Termasuk guru saya, Pak Yahya. Mau tidak mau mereka harus menjalani masa-masa terkurung dalam cita-citanya—cita-cita mulia. Seharunya itu menjadi surga kehidupan di mana setiap kata yang keluar dari mulutnya merupakan mutiara ilmu yang diperoleh dari dalamnya lautan, juga merupakan keberkahan yang senantiasa mengalir bagai sungai meskipun nanti telah meninggalkan dunia ini.

Tapi apa mau dikata, menjadi guru honorer seperti penjara suci baginya. Mendidik anak manusia adalah kenikmatan yang tidak bisa diukur. Sebenarnya jika mau, ia bisa saja beralih profesi menjadi karyawaan dengan gaji yang tinggi, sebab di tempat tinggalnya, di pinggir kota Makassar merupakan daerah industri di mana banyak sekali perusahaan dan pabrik-pabrik yang berdiri. Tapi pilihannya tetap kukuh untuk mencerdaskan anak bangsa.

“Mendidik seperti perahu, bertani merupakan pelampung, usaha saya yang lain juga pelampung, jika memang suatu saat perahu karam, saya masih memiliki pelampung dan setidaknya perahu sudah saya kayuh dengan jauh.”Ia menjelaskan mengapa sampai saat ini masih bertahan.

Guru saya, merupakan satu di antara banyaknya guru honorer yang belum merdeka sepenuhnya atas profesinya. Saya mengenal guru-guru lain di daerah pedalaman kabupaten Gowa yang juga sibuk mencerdaskan anak bangsa melalui program pembinaan literasi: baca-tulis siswa-siswa yang jauh di sana, Biring Bulu. Satu demi satu muridnya telah melahirkan buku dan telah berkuliah di kampus ternama kota Makassar.

Saya bangga dan bertemu dengan mereka, yang mengajar dengan sepenuh hati, yang memberi sepenuh jiwa, tak lelah memberi dan berbagi. Meskipun diri sendiri kekurangan. Mereka sebenarnya kaya, kaya hati. Mereka memberi segala.

Guru-guru cerdas,  tulus seperti ini paling tidak kelak yang akan membangun peradaban bangsa ini jika tertidur. Menjadi lentera di tengah gulita. Barangkali nanti ada yang menjadi pemimpin bangsa, menjadi politisi yang bisa memperjuangkan suara orang banyak dari daerahnya, seperti ustadz Tamsil Linrung, yang banyak melaksanakan program pembiayaan pendidikan apalagi sekarang didaulat menjadi ketua Pansus Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer DPD RI. Atau barangkali guru yang saya sebutkan tadi yang membina kegiatan literasi pelosok bisa menjadi peneliti hebat atau bahkan menjadi professor riset termuda seperti Prof. Firman Noor di beberapa tahun lalu.

Kita ingat ketika kota Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak oleh bom Amerika? Kaisar Hirohito mengumpulkan para jenderal yang masih hidup dan bertanya “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” pada saat itulah sang Kaisar melihat dan meyakini bahwa masa depan negara ada di tangan para guru. Apa yang ditanam jepang puluhan tahun yang lalu akhirnya tumbuh subur dan berbuah lebat. Jepang menjadi negara maju.

Pemerintah berbenah atas permasalahan ini. Termasuk dengan membuka banyak formasi PPPK pada penerimaan CASN 2021. Walaupun jika dilihat lagi, ini tidak mungkin menampung 1.7 juta guru yang berstatus honorer, belum ada kepastian bahkan ketika berstatus kontrak. Betul kata Tamsil Linrung, bahwa guru bukan ban serep, ia adalah komponen utama, guru merupakan bagian dari proses pendidikan yang berjalan berkesinambungan. Sampai hari ini di tengah terjangan pandemi dan krisis di berbagai sektor, guru masih senantiasa menyalakan cahayanya di tengah gelapnya ruang-ruang negara kita. Menyalalah! Meski tidak ada apresiasi dari negara.

*Penulis adalah Alumni UIN Alauddin Makassar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *