Berlapang Dada

  • Whatsapp

Oleh: Abdullah Sartono*

Walau bukanlah pemangku kebijakan atau katakanlah sebagai anggota dewan republik yang terhormat begitu, kita ini rakyat kecil yang juga punya naluri, rasa dan sensivitas hidup dalam keberagaman. Paling minimal ada sedikit keberpihakan kecil kita terkait jalan tengah soal konflik sosial dalam -diversitas- kultur bangsa yang cukup klasik.

Read More

Sebagai warga negara yang tinggal di pelosok negeri, agak risih ya, saat menyaksikan kisruh, gesekan dan benturan yang agak krusial dan meruncing soal Sara’. Itu kian riuh dan ramai di media massa atau media sosial, yang akhir-akhir ini hampir saja menyita perhatian dan ruang publik kita.

Gimana gitu. Rasanya kita seperti dibawa kembali untuk hidup pada zaman kolonial dan cerita masa sulit saat perang merebut kemerdekaan negeri ini, juga cerita klasik peradaban kuno dimana orang biasa menyelesaikan konfliknya bukan lagi dengan otak tapi pake otot.

Ini dikhawatirkan bisa memancing konflik baru yang sensitif terkait agama atau soal keyakinan antar ummat beragama di Republik ini, itu nampak kelihatan dan bagai angin yang berhembus kencang akhir-akhir ini. Saat termenung dan lantas bertanya, siapa oknum, konseptor dan pemain utama yang siap bertanggung jawab dibalik konflik-konflik -Sara’- itu?.

Sebagai warga negara yang tinggal di pelosok negeri, agak risih ya, saat menyaksikan kisruh, gesekan dan benturan yang agak krusial dan meruncing soal Sara’. Itu kian riuh dan ramai di media massa atau media sosial, yang akhir-akhir ini hampir saja menyita perhatian dan ruang publik kita.

Saya berlepas diri atau sama sekali untuk tidak mengurai terkait desas desus informasi yang berseliweran, dugaan adanya honor atau bayaran dengan nilai-nilai fantastis dari pelaku ulah -Sara’- pada catatan kecil ini. Sekadar sedikit mengurai soal point konflik pencemaran atau penghinaan pada keyakinan agama tertentu yang sedang terjadi, sesuai pemberitaan yang ramai dan viral.

Jadi mungkin sedikit berbeda dengan pandangan umum para cendikia atau misal mereka para pakar dan konsultan hukum. Sebagai awam saya punya sedkit usul begini, jika boleh setiap ada konflik -Sara’-, sebisanya diselesaikan terlebih dahulu pada forum internal dan terbatas antara pihak yang berselisih atau kelompok yang merasa dihina atau terganggu imannya, misal FKUB dan atau forum antar ummat beragama semisal, bisa hadir menjadi wadah pemersatu.

Sebelum sebuah konflik dari objek hukum itu dibawa perkara atau ke pengadilan, ranah hukum birokrasi yang berlaku di Indonesia. Andai konflik itu tidak selesai atau katakanlah mereka belum menemukan titik temu dan berdamai dengannya, bolehlah negara dengan seluruh instrumen hukum bisa hadir menjadi wadah untuk terselesaikannya konflik-konflik dimaksud.

Sekalipun kita punya ragam kultur. Walaupun begitu, kita tetap pada prinsip bahwa Indonesia adalah negara hukum, dan setiap perkara hukum diharapkan dapat diselesaikan pada ranah hukum yang berlaku dalam wilayah hukum. Dan setiap warga negara, bisa merasa nyaman karena terciptanya keadilan hukum dalam kehidupan sosialnya. Oleh karena memang negara senantiasa hadir bersama warga bangsanya.

Mengutip sebuah catatan pada laman Facebook, tanggal 22/08/2019, oleh salah satu pengurus pusat MUI sekaligus Presiden RPI Cand. Doktor Yanuardi Syukur, bahwa: “Kita perlu terus menghadirkan kesadaran bahwa diversitas Indonesia ini tidak sekedar sesempit yang kita ketahui berdasarkan penelusuran singkat dari laman ke laman. Ada banyak sekali variasi etnik, sub-etnik, bahasa, dan aliran, organisasi sosial yang ada di negeri ini (yang beberapa cabang terus “membelah diri”–mencari bentuk); dan semuanya itu berhak untuk mendapatkan perhatian dari negara. Maka, penghargaan dan penghormatan terhadap diversitas kultur umat manusia sangatlah penting untuk menciptakan harmoni dalam hidup bermasyarakat”.

Pandangan pribadi saya bahwa oleh karena bangsa ini punya adat, diversitas kultur dan corak budaya, tentu pada setiap warga bangsa ini punya pola dan karakteristik penyelesaian konflik internal yang ragam, dan itu barangkali tidak dimiliki oleh budaya dan bangsa lain di dunia. Sehingga kita berharap penyelesaian konflik yang terkait dengan urusan mereka pihak yang berselisih itu bisa beres dalam ranah rumah tangga atau internal mereka sebelum dibawah ke ranah hukum. Dan negara tetap memberikan kesempatan atau semacam dukungan moril dalam perkara penyelesaian konflik internal tersebut.

Di internal Muslim, katakanlah ketika terjadi gesekan dalam persoalan ragam pemahaman atas teks-teks dalil, benturan atau kisruh antar mazhab pada tataran praktek ibadah misalnya, katakanlah MUI bisa hadir, karena dianggap independen, lembaga berhimpun atau berkumpulnya para tokoh Ulama dan Zuama’, yang bisa menjembatani untuk penyelesaian konflik internal dimaksud.

Saya kira setiap kelompok, mazhab dan gerakan pemikiran dalam islam menerima setiap perbedaan demikian, jika misal objek perdebatan itu sudah menjadi kesapahaman bersama, walau sebelumnya sempat terjadi perdebatan. Kemudian muncul Fatwa atau keputusan yang dapat disepakati misalnya, walaupun dirasanya berat, oleh karena mereka diajarkan untuk saling berlapang dada dalam perkara yang mereka saling berbeda, perbedaan klasik, fiqh atau furuiyah misalnya begitu.

Persis biasa di kampung-kampung adat, ketika terjadi konflik antar kampung, kadang mereka lebih merasa nyaman ketika penyelesaian konfik itu diwadahi oleh tokoh adat atau seorang Raja yang punya wibawa atau tokoh yang disegani dalam wilayah adat itu. Konfliknya dapat terselesaikan dan mereka bisa berdamai, sekalipun awal dianggapnya ruwet persoalan atau konflik mereka. Saya lihat itu banyak terjadi, sangat cukup membanggakan dan itu perlu diapresiasi.

Jadi secara pribadi berharap, bahwa setiap kita apapun konflik dan perbedaan, apalagi perbedaan klasik yang sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan ini, kita bisa berlapang dada dengannya. Saling berlapang dada itu walau dalam hal yang kita tidak sepakati dan merasa berat sekalipun. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata pada Abu Musa, “Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masaalah?”

Berlapang dada adalah salah satu tanda kebaikan orang beriman, hal ini senada dengan firman-Nya, dalam Qur’an Surah Al-An’am ayat 125, bahwa “Siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka dilapangkan dadanya, dan siapa yang dikehendaki kesesatan, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit”.

Oleh Syaikh Muhammad Ali As-Shabuni dalam Shafwat At-Tafasir, saat menjelaskan Surah As-Syarh ayat pertama, bahwa yang dimaksud dengan “dilapangkan dada Muhammad” ialah bahwa hati Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, telah dipenuhi dengan iman, diterangi dengan cahaya dan kebajikan dan kebenaran, serta disucikan berbagai dosa.

Saya bercerita sedikit begini, lalu Kakek dan Nenek kami saat menjadi Muallaf (masuk islam), separuh keluarga besar Nasrani (Kristen) saat itu berlapang dada dengan keputusan kedua orang tua dari mama kami, walaupun awalnya sempat ada ribut-ribut kecil dalam keluarga almarhum Kakek dan Nenek, Rahimahumullahu rahmatan wasiatan wa askinahum firdausil a’laa.

Cerita awal hijrahnya, mereka seperti mendapat arahan dan petunjuk dari sebab mimpi mendengarkan lantunan suara adzan merdu yang berulang kali. Kakek dan Nenek membuat keputusan saat itu total untuk hijrah (masuk Islam). Sekali lagi bahwa pihak keluarga, terkhusus kedua orang tua dari Kakek dan Nenek kami bisa berlapang dada dengan keputusan yang diambil oleh kedua anaknya.

Tidak terjadi benturan yang mengganggu harmoni keluarga besar kami antara Kristen-Muslim itu, dan sampai hari ini kami masih hidup rukun dan berdampingan, masih terbangun tradisi musyawarah dan musyarakah dalam urusan-urusan dunia keluarga besar kami, misal bakti sosial bersama, jual beli dan bertani seperti bercocok tanam dsbnya. Itu terus berlanjut hingga saat ini di kampung kami, Alor-NTT.

Bahwa kita ini bangsa yang dikagumi dunia karena cukup ramah dan sangat toleran, sekalipun banyaknya perbedaan namun bersyukur kita dapat menyatu dalam kebihinekaan selama berabad dan dalam bingkai NKRI harga mati!. Kan biasa orang-orang pinter bilang begitu.

Pengalaman yang telah berlalu bahwa konflik -Sara’-itu cukup sensitif, menyita banyak perhatian, waktu, biaya dan bisa memancing konflik besar antar ummat beragama, mudah diadu domba atau peluang besar untuk terprovokasi, apalagi bagi kalangan yang awam. Oleh karena itu kita berharap peran tokoh Ummat harusnya menjadi pemersatu dalam wadah bangsa untuk menjaga keharmonisan atas ragamnya -devirsitas- kultur, bukan malah turut ikut bermain api.

Saya kira saling berlapang dada kita bisa keluar dari konflik internal kita sebagai bangsa yang ramah, bangsa yang saling menghargai perbedaan, bangsa yang cinta damai, bangsa besar dan bangsa yang disegani dunia. Dan modal demikian tidak dimiliki oleh peradaban barat atau bangsa besar lainnya dalam sejarah dan peradaban modern kini.

Saat konflik, tetap berlapang dada dan walau dengan segala perbedaan yang ada. Tidak termakan hoax dan muda terpancing juga tak perlu emosional merespon setiap riak. Salam damai Indonesia dan untuk Indonesia yang selalu damai. Saya anak kampung mengajak orang cerdik dan pandai, orang kota dan orang desa untuk terus berlapang dada dan berdamailah. و الصلح خير

dan damai itu indah.

*Penulis Adalah Pengurus Pusat Rumah Produktif Indonesia, Ikatan Da’i Muda Indonesia&Founder Shohwa Foundation.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *