Anne of Green Gables, tentang Optimisme, Keteguhan Hati, Kasih Sayang, dan Perjuangan Meraih Cita-Cita

  • Whatsapp

Oleh Maghdalena

Saya menemukan buku ini di aplikasi Wattpad semalam. Ketika jam dinding telah menunjukkan pukul 9 lewat beberapa menit. Semua anggota keluarga telah larut dalam mimpi, sedang mata saya tak juga mau diajak terpejam.

Ada banyak tugas yang harusnya dituntaskan, tapi saya sedang tidak dalam mood yang bagus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Yang ingin saya lakukan hanyalah meraih sebuah buku, dan terbuai dalam lelap dengan buku di pelukan.

Hanya saja, tidak ada buku di lemari yang menarik hati saya saat ini. Maka berselancarlah saya ke ipusnas. Dan saya menemukan novel ini. Kovernya sederhana saja, tapi entah mengapa mampu membuat saya terpikat pada pandangan pertama. Sayang sekali, bukunya ditulis dalam bahasa Inggris, dan saya sedang tidak ingin dibuat pusing dengan membaca buku yang menggunakan bahasa berat itu. 

Namun tentu saya tak kehilangan akal, saya kembali berkelana di dunia maya, dan menemukan terjemahan buku itu di wattpad. Hanya butuh beberapa jam saja untuk menuntaskan membacanya, hingga akhirnya saya terlelap dengan sebuah kesimpulan; novel ini sungguh adalah karya yang indah. 

Seberkas harap dan cemas memercik di sudut hati saya ketika membaca bab-bab awal buku ini. Ada tetes-tetes debar yang kemudian menyublim menjadi tekad untuk tak henti membaca.

Iya. Buku ini membuat saya terpesona.

Aura positif menguar di dalam setiap babnya. Tersirat dari setiap kejadian dan sikap si tokoh utama.

Novel berjudul Anne of Green Gables adalah sebuah novel legendaris yang ditulis oleh Lucy Maud Montgomery. 
Perempuan kelahiran New London Kanada pada 30 November 1874 ini adalah seorang penulis Kanada yang terkenal karena serangkaian novel yang dia tulis. Dan karyanya yang berjudul Anne of Green Gables ini adalah karya perdananya yang langsung laris manis dan disukai publik.

Buku ini berkisah tentang seorang anak perempuan yatim piatu bernama Anne Shirley yang imajinatif. Ia suka berbicara mengungkapkan apa saja yang terlintas di benaknya. Akan tetapi, sebagian di antaranya adalah khayalannya. Ia sangat gemar berkhayal. Jika melihat sesuatu yang menarik baginya, ia lantas menciptakan cerita imajinasinya sendiri.

Pada awal bab, penulis  mendeskripsikan bahwa kehadiran Anne di Avonlea, sebuah negeri yang indah di kepulauan Prince Edward di Kanada adalah sebuah kekeliruan. 
Sepasang kakak beradik berusia lanjut, Matthew dan Marilla Cuthbert mencari seorang anak laki-laki untuk diadopsi, yang bisa membantu mereka mengurus lahan pertanian. 

Namun, sungguh sayang, karena sebuah kesalahan, yang datang bukanlah anak laki-laki, tapi seorang anak perempuan berambut merah yang kurus dan wajahnya berbintik-bintik.

Di sinilah kisah itu bermula. Ada banyak peristiwa-peristiwa kecil yang membuat hati saya berdebar-debar. Akankah Anne dikembalikan ke panti asuhan? Akankah dia mampu meraih maaf nyonya Rachel yang sudah dia bentak karena mengejeknya? Apakah Diana menyukainya pada pertemuan pertama dan mau berteman dengannya?
Pertanyaan demi pertanyaan menyesaki kepala saya setiap saya membaca bab demi bab. Lihai sekali penulis mendeskripsikan kisah yang dialami Anne sehingga pada setiap lembarnya, saya tak sabar untuk membalik halaman berikutnya.

Buku ini berkisah tentang kesederhanaan hidup. Tentang kasih sayang yang tumbuh dalam hati orang-orang baik pada seorang anak yatim piatu yang polos dan apa adanya.

Anne digambarkan memiliki karakter kuat yang jujur, teguh hati, dan penyayang. Dia memegang teguh hal-hal yang dia yakini kebenarannya, tapi dia juga tak malu mengakui kesalahan, dan meminta maaf atas kesalahannya itu. Kecuali pada satu orang, yaitu lelaki tampan berkulit coklat bernama Gilbert, yang menertawakannya karena memiliki rambut seperti warna wortel. 

Sayangnya, di buku ini tidak diceritakan apakah Anne kemudian berjodoh dengan Gilbert atau tidak. Saya penasaran pada bagian itu. Nanti saya akan mencari kelanjutan kisah mereka di buku yang lain.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada film Little House in The Prairie yang pernah saya tonton ketika kecil dulu. Sebuah film yang mengisahkan sosok Laura dari kanak-kanak hingga dewasa dan menua.

Kabarnya, novel ini juga telah difilmkan sejak tahun 1985. Berpuluh tahun lalu, dan laris manis di pasaran. Dan menurut beberapa ulasan yang saya baca di internet, filmnya memiliki pesona yang tak kalah menggugah dari kisah di bukunya, karena telah mengalami beberapa pengembangan kisah.

Namun, saya sendiri sebagai penikmat buku dan tidak begitu menggemari film, tentu saja lebih memilih berkutat dengan buku ini. Membaca setiap kalimat demi kalimat, dan membayangkan saya juga tengah berlari-lari di sela pohon birch putih. Atau menatap pantulan cahaya mentari nan silau di atas air Danau Kemilau.

Ah … membaca buku ini, saya seakan tersedot masuk ke Avonlea. Sebuah negeri nan indah di ceruk negara Kanada. Penulis menggambarkan daerah kecil itu dalam deskripsi yang sangat jelas dan detail.

Lalu, bagian manakah yang paling menarik hati saya dalam buku ini?
Adalah tentang Matthew dan Marilla yang begitu penuh kasih pada Anne.
Matthew dengan sifatnya yang pemalu, menyayangi Anne dengan cara yang tak biasa. Ketika dia melihat Anne tidak memiliki pakaian yang layak sebagaimana anak seusianya, hatinya tersentuh. Maka dengan berjuang keras dia pergi ke toko untuk mencarikan pakaian yang memiliki gelembung di tangan, jenis pakaian yang disukai Anne. Namun begitulah, setiap memasuki toko, dia gugup dan malah membeli gula merah yang sama sekali tidak dia butuhkan. Bagian ini sontak membuat saya terbahak. 

Rasa kasih sayang Matthew ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah Minang. 
Si bisu barasian, taraso lai, takecekkan indak“(Si bisu bermimpi, terasa di hati, tapi tak mampu diungkapkan dengan kata-kata).

Lain lagi dengan Marilla, yang terlalu gengsi untuk mengucapkan rasa sayang pada Anne. Dia tidak mau mengakui bahwa kehadiran Anne di Green Gables telah mengubah begitu banyak kesuraman menjadi pelangi berwarna-warni.

Ada begitu banyak kejadian kecil di keseharian yang mereka alami yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, kesal, dan terharu hingga menyusut air mata.
Membaca kisah ini membuat saya teringat pada Ema. Sosok kecil dalam novel yang saya tulis.

Saya sedang tidak membandingkan novel karya saya dengan novel indah karya Lucy ini tentu. Karena saya menyadari, saya baru belajar menulis novel. Dan tentu saja saya harus lebih banyak berlatih untuk bisa menulis selihai Lucy Maud Montgomery.

Namun demikian, saya mengambil satu kesimpulan, bahwa untuk bisa menuliskan sebuah kisah yang indah dan menggugah hati, kita tak perlu jauh-jauh mencari ide cerita yang kesannya ‘wow’ atau spektakuler dulu. Kita bisa mulai menulis dari hal-hal sederhana di sekitar kita.
Lalu tuliskan ia dengan hati. Jiwai setiap tokoh dalam cerita, bayangkan kita tengah berada di tempat dan suasana si tokoh, lalu mulailah berimajinasi. Kemudian torehkan setiap kisah itu dengan tinta. Biarkan hati dan pikir kita berkelana ke mana saja tanpa batasan. Dan pastikan semua itu terekam dalam goresan pena.

Karya yang sederhana, ketika ia dituliskan dengan hati dan penuh cinta, maka karya itu akan mendapat tempat di banyak jiwa. Menjadi inspirasi, bahkan mampu menumbuhkan rasa empati.

Saya merekomendasikan buku ini agar dibaca oleh setiap orang. Agar hati yang keras, secara perlahan bisa menjadi lembut oleh kasih sayang.

Padang, 2 Oktober 2021.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *