Itsar & Tentang Kita

  • Whatsapp

Oleh: Abdullah Sartono*

Sejatinya sebuah komunitas itu, saling menutupi kekurangan kawan. Produktif dalam kebaikan dan saling menguatkan relawan. Menyemangati, kerja sama juga menjadi inspirasi dalam setiap project kebajikan. Bukanlah jembatan untuk ghibah dan buat permusuhan. Jangan besarkan organisasi, hanya sekadar buat onar dan propaganda. Saling menyerang. Sikut kiri kanan sesama kawan. Yang penting dapat nyaman. Saya berlepas diri dengan perkumpulan demikian.

Read More

Bersainglah dengan sehat saja. Memang lebih benar, nyalakan lampu dari pada mengutuk kegelapan. Tunjuk saja pada massamu bahwa anda layak menjadi panutan. Gembirakan dan saling memberi hadiah sesama kawan. Itu lebih nyaman. Ghibah itu hancurkan hati, walau dapat milyaran dari kerja keras serang kawan. Seperti kerjaan buzerRp kan. Biar tidur beralaskan duit, tak memberikan ketenangan dan mashlahat. Untuk apa?. Percuma kawan.

Saran saya, jangan ikut perkumpulan, yang sukanya belah bambu dan taklid buta saja. Yang tokoh dan warganya suka ngumpat, berikan kesaksian palsu, ghibah dan suka nyebar hoax. Buat lelah saja. Seperti praktik takiyyah, sebagaimana keyakinan sebagian ideologi ormas tertentu yang suka nyebelin. Apalagi bos pace komunis. Ganaaas!. Mainannya. Main sikat saja, tak punya kemanusiaan.

Saya cukup berkeyakinan, bahwa project kebaikan untuk maslahat banyak orang, tidak mungkin dipikul sendirian oleh satu orpol atau ormas saja. Kan begitu adanya. Percuma anda teriak walau berbusa, kalau sendirian. Anda punya kuasa atau misal ingin masuk perlemen, itu untuk memperjuangkan nasib rakyat. Bukan memperbanyak saham. Bukan pula untuk menambah deretan kendaraan bermerk, baik di darat, laut udara dan saat di kasur.

Saya membayangkan, begitu indah saat pleno di parlemen, semua wakil rakyat ketok palu untuk menyepakati project kebaikan yang pro hanya untuk rakyat saja. Bukan untuk bosnya yang buat spanduk saat nyaleg lalu. Mimpi politisi, jangan hanya nemu pengusaha doang saat terlelap dalam tidur indahnya. Sesekali mimpi temuilah pula wong cilik. Seperti tema dan slogan yang selalu digaungkan saat masang spanduk dan orasi politik.

Adalah sebuah fenomena unik akhir-akhir ini, ketika sudah tak cocok dan beda pandangan tentang visi organisasinya, biasanya orang membuat organisasi tandingan. Kemudian penghuni kedua organisasi itu saling melempar bola bahkan mencaci maki. Nauzubillah. Fenomena itu bisa kita liat dalam beberapa organisasi masyarakat, organisasi bisnis, parpol dan perkumpulan para profesional. Juga perkumpulan anak muda sampai pada organisasi kecil pengurusan kemakmuran dalam sebuah tempat ibadah tertentu.

Ada kejadian, misal karena berbeda pandangan pada posisi serong beberapa derajat saat menghadap kiblat dalam sholat diantara jamaah masjid, mereka sampai ribut dan kelahi. Lempar kursi dan mimbar bukan solusi. Bahkan tidak lagi sholat berjamaah, walau sangat dekat rumahnya dengan masjid tersebut. Dia harus mutar berkilo nyari masjid yang dia rasa cocok saja. Kan lucu. Merasa berjasa besar pada sebuah perkumpulan, bukanlah sikap pahlawan sejati dari sang pejuang kebaikan. Kabaikan itu tak perlu toa dan papan informasi sumbangan.

Kami sedang belajar untuk kuatkan satu prinsip, bahwa pengabdian untuk pembangunan peradaban itu, tidak harus anda menjadi apa dan untuk kepentingan apa juga siapa. Lagi sedang kaya atau papa, menjadi orang kota atau desa, tua atau muda. Semua kita punya peluang untuk menjadi bagian dari tersampaikannya kemanfaatan. Bermitra, kerja sama dan terus berkontribusi bagi semesta. Orang biasa bilang kolaboratif.

Lalu, para sahabat Nabi senantiasa berlomba dalam kebaikan. Bahkan hanya untuk memuliakan sahabatnya yang lain, mereka bahkan rela untuk lebih mendahulukan kebutuhan sahabat itu, ketimbang dirinya sendiri. Walau sahabat itu juga sangat kepepet dan butuh. Itu yang saya maksud Itsar. Dalam urusan makan dan minum, sebagian sahabat Nabi memastikan kebutuhan sahabatnya dihari itu. Atau apa yang bisa ia berikan kepada sahabatnya untuk kebutuhan menahan perutnya dari lapar karena perjuangan keras.

Bahkan dalam urusan cinta dan pendamping jiwa. Saat awal hijrah ada sahabat Anshor, bahkan siap mencereikan salah satu dari istrinya, untuk kemudian dinikahkan kepada sahabat yang baru hijrah dari Makkah. Ini menjadi monumen indah dari salah satu sejarah, tentang berbagi dari sahabat mulia itu. Demikian penghargaan bagi sahabat yang punya jiwa Itsar, menjadikan sebab diturunkannya sebuah kalam indah dalam surah Al-Hasyr ayat 9. Ia memberikan ta’qid dan tentang kita untuk membangun jiwa-jiwa lapang dan ikhlas dalam perjuangan.

Kalam-Nya itu dapat menggugah setiap hati-hati yang senantiasa haus pada setiap momentum kebaikan.

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

“Dan orang-orang Anshar yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka Muhajirin, mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka, dan mereka mengutamakan Muhajirin atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga sangat memerlukan, dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Al-Hasyar: 9)

Inilah sikap Itsar, mendahulukan kebutuhan kawan ketimbang dirinya sendiri, walau ia juga sangat membutuhkan apa yg di butuhkan oleh kawannya tadi. Ini semua tentang kita.

Kami masih banyak belajar untuk punya jiwa mulia ini, tapi itu bisa terus dilatih untuk menjadi yang terbaik bagi keberlangsungan persaudaraan yang kini makin terpuruk. Terseok dan terkutuk. Sekali lagi ini tentang kita.

**Pegiat Sosial

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *