Dalam Rangka Sumpah Pemuda, Rumah Produktif Indonesia dan Defense Heritage Society Sukses Mengadakan Webinar “Polyglot: Bahasa Daerah dan Bahasa Asing”

  • Whatsapp

Dalam rangka Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Rumah Produktif Indonesia (RPI) Divisi Bahasa dan Masyarakat Warisan Pertahanan atau Defense Heritage Society (DHS) sukses menyelenggarkan Webinar “Polyglot: Bahasa Daerah dan Bahasa Asing” pada Sabtu, 30 Oktober 2021 pukul 15:15 WIB via Zoom meeting. Webinar dibuka oleh Dr. Jeanne Francoise, sebagai ahli Defense Heritage yang juga merupakan Ketua Dewan Pimpinan Pusat RPI Bidang Bahasa Tahun 2021-2022.

Narasumber pertama adalah Setya Amri Prasaja, seorang penggiat aksara Bahasa Jawa dan Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Narasumber kedua adalah Faridatul Istigfaroh seorang polyglot dan tutor 6 (enam) bahasa asing dan Dosen di Universitas Bojonegoro. Moderator Webinar adalah Batari Oja, M.A., selaku Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Jaringan Luar Negeri RPI dan Dosen di Zhejiang Yuexlu University, Cina.

Read More

Turut hadir dalam Webinar adalah Presiden RPI, Kandidat Doktor Yanuardi Syukur dan Panitia yang terdiri dari Kaidah, Tutus, Uni Maghdalena, teman-teman perwakilan RPI dari berbagai bidang, bapak/ibu perwakilan kampus, Lembaga, organisasi komunitas, mahasiswa, dan Diaspora Indonesia di Cina.

Rumah Produktif Indonesia atau RPI adalah organisasi perkumpulan anak-anak muda dari berbagai provinsi di Indonesia dan Diaspora Indonesia di 21 negara yang memiliki visi yang sama untuk menjadi tetap produktif bagi kemasyuran Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemaslahatan bangsa Indonesia tercinta. RPI hadir di awal-awal Pandemi Covid-19 tahun 2020, yang menjadi bukti nyata bahwa kita tidak boleh patah semangat untuk terus belajar, berkarya, dan berkomunitas di tengah-tengah kondisi yang tidak terduga.

Sementara itu Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) adalah komunitas yang dibangun sejak tahun 2018 oleh Dr. Jeanne Francoise, penulis Disertasi Defense Heritage di Universitas Pertahanan RI, yang sudah Sidang Terbuka Doktoral dan menjadi Perempuan pertama dengan Gelar Doktor Ilmu Pertahanan dari Unhan RI pada 11 Februari 2021.

Di dalam kata sambutannya, Dr. Jeanne Francoise menjelaskan bahwa di dalam teori ilmu Humaniora, terutama cultural function, kita mengenal istilah locuteur locale (penutur asli) dari suatu bahasa tersebut. Artinya adalah ketika dilakukan kajian bahasa, sama saja mengkaji ‘Manusia’, si penutur bahasa tersebut.

Sesuai tema Webinar tentang Polyglot, orang Indonesia cenderung Polyglot. Orang Indonesia cenderung bisa bertutur Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa daerah sebagai bahasa ibu, dan belajar Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya di sekolah maupun di universitas.

Dari perspektif sejarah, akar fonologi Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu yang telah dipakai sejak abad ke-7, seiring dengan perkembangan jalur sutera dan bisnis maritim. Artinya Bahasa Indonesia mengalami banyak fonem dari bahasa-bahasa lain, ada dari Bahasa Arab, Bahasa Cina, Bahasa Belanda, dan Bahasa Portugis.

Berdasarkan perspektif Warisan Pertahanan (Defense Heritage), Bahasa Indonesia termasuk ke dalam Warisan Pertahanan Tak Benda (Intangible Defense Heritage) bagi bangsa Indonesia, selain Pancasila dan proses mem-Batik. Kenapa? Karena Bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu dan penggerak bangsa untuk berjuang melawan penjajah, meraih kemerdekaan, dan mempertahankan wilayah NKRI. Bisa dibayangkan jika pada waktu itu Bahasa Indonesia tidak menjadi bahasa nasional pemersatu, maka orang-orang daerah tidak punya komando yang jelas. Sebagai contoh di Jogjakarta ada namanya kromo inggil, yang berbahasa sesuai power. Di Minahasa Selatan tidak ada, bisa panggil bapak-ibu dengan nama.

Titik kulminasi Bahasa Indonesia dalam bingkai pertahanan NKRI adalah pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pada waktu itu organisasi-organisasi pemuda, yakni Jong Celebes, Jong Ambon, dan Jong Minahasa, dalam melakukan diplomasi pertahanan tidak lagi membawa bahasa-bahasa daerah masing-masing, tetapi menggunakan Bahasa Indonesia.

Dalam momen yang spesial ini, Rumah Produktif Indonesia dan Defense Heritage Society mengangkat tema Polyglot, yang berfokus pada peningkatan kualitas manusia Indonesia yang modern, yang memiliki kemampuan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) dalam setiap bertutur kata dan menuliskan ide-ide. Juga menghargai akar budaya-nya, dengan mempelajari bahasa daerah, dan meraih peluang-peluang masa depan dengan mempelajari bahasa asing. Jadi 3 (tiga) poin utama disini adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing.

Reporter: Kaidah (Divisi Bahasa RPI)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *